Aku lupa tanggal berapa tapi aku ingat di suatu pagi aku melihatmu memasuki ruang kelasku. Kukira kau hanya sekedar mampir dan menyapa temanmu di kelasku, seperti yang dilakukan orang lain di hari pertama tahun ajaran baru. Sampai bel berbunyi aku baru sadar kita akan menjalani tahun terakhir masa putih-abu sebagai teman seruang.
Aku lupa hari apa, namun aku ingat di suatu siang
di depan gerbang sekolah aku melihatmu duduk sendiri menunggu. Menunggu sebuah kendaraan umum melintas. Masih diatas motorku, aku menyapamu yang kemudian kau memintaku untuk menemani sebentar. kita ciptakan sebuah obrolan panjang, terpanjang yang pernah kita miliki saat itu. Dari obrolan itu, aku tahu kau ingin melanjutkan studimu dimana. Aku tahu nama kucingmu. Aku tahu kau tidak suka makanan pedas, sama sepertiku. Sampai sebuah mikolet lewat, aku menyadari kamu sudah memiliki sebuah ruang di hatiku.
di depan gerbang sekolah aku melihatmu duduk sendiri menunggu. Menunggu sebuah kendaraan umum melintas. Masih diatas motorku, aku menyapamu yang kemudian kau memintaku untuk menemani sebentar. kita ciptakan sebuah obrolan panjang, terpanjang yang pernah kita miliki saat itu. Dari obrolan itu, aku tahu kau ingin melanjutkan studimu dimana. Aku tahu nama kucingmu. Aku tahu kau tidak suka makanan pedas, sama sepertiku. Sampai sebuah mikolet lewat, aku menyadari kamu sudah memiliki sebuah ruang di hatiku.
Aku tidak ingat tapi masih jelas tentang sebuah sore saat aku belajar untuk menghadapi ujian terakhir dengan kerumunan perempuan yang sedang bergosip, yang selewat kudengar namamu disebut beberapa kali. Rasa penasaran membuatku mendekati perkumpulan itu. Dari mereka aku mengetahui bahwa seorang telah memilkimu dan membangun ruangan-ruangan di hatimu. Sampai mereka pergi, aku paham masih ada ujian lain yang harus kuhadapi.
Aku lupa tepatnya kapan tapi aku masih ingat sebuah senja dimana kita merayakan kelulusan dengan tangis yang dicampur tawa. Ditengah ritual pembubuhan tanda tangan, kita bercakap. Seragamku yang penuh dengan coretan sangat kontras denganmu yang hanya terdapat lima, atau mungkin enam tanda tangan. Paling terlihat adalah tulisan dengan spidol biru yang terdapat di atas sakumu, tulisan dengan gambar hati dibelakangnya, tanda tangan kekasihmu. Aku berusaha tidak terlihat peduli dengan hal itu dan kemudian meminta izin untuk mencoret seragammu. Kau meng-iya-kan kemudian kupilih tempat yang bahkan tidak akan terlihat meski tidak kau tutupi dengan rambut ikal panjangmu, di belakang kerah seragammu. Sampai coretan terakhir, aku menyadari yang kulakukan adalah membisikan perasaanku yang terpendam tanpa berharap kau mendengarnya.
Aku lupa jam berapa, tapi aku masih mengenang Kamis malam itu adalah malam perpisahan. Kuharap 'perpisahan' yang ditulis hanyalah sebuah kata, bukan sesuatu yang aku takutkan. Aku hanya memandangmu, berbicara denganmu adalah hal yang susah untuk dilakukan. Aku hanya ingin menikmati indahmu mungkin untuk yang terakhir kali, semoga tidak. Hingga kau yang kemudian mendekat untuk mengajak bicara yang akhirnya kita memutuskan untuk keluar, untuk menghindari kebisingan. Kita bercakap, mengenang pertemanan kita. Pertemanan, huh? Aku tertawa sarkastik jika saat itu hingga akhirnya sebuah lengan mungil menarik pinggulku yang kemudian disusul oleh tangan lainnya. Wangi shampoo yang kau gunakan sebelum kau menghadiri pesta menusuk indra penciumanku, manis. Baunya memabukanku hingga akhirnya aku menyadari sebuah wajah menempel di dadaku. Kamu memlukku. Pikiranku kacau, entah aku harus memeluk balik atau tidak? Atau aku harus mendorongmu menjauh? Apa yang harus kukatakan? Kau sudah ada yang punya, hal ini yang mengganjalku. Aku masih dilanda kebingungan saat kau mendongakan kepalamu, mendekatkannya ke kepalaku. Kemudian mencondongkan bibirmu ketelingaku dan membisikan sebuah kalimat singkat. Sebuah kalimat yang menimbulkan perasaan tak karuan dalam perutku, menciptakan banyak pertanyaan di otakku yang masih limbung. Apa arti pelukanmu? Pepisahankah? Dan apa pula arti dari kata-katamu? Pertanyaan lain masih muncul hingga akhirnya kusadari, bukan hanya aku yang memendam rasa.
Tentu aku masih ingat. Sekarang, aku di sini. Di tempat kita pernah berpelukan untuk semenit, atau lima menit. Entahlah, yang pasti hatiku masih berada di sana dan waktuku masih berhenti hingga sekarang. Masih berpikir tentang pertemuan-pertemuan kita, masih bertanya tentang arti pelukanmu, dan kenangan masih mengulang kalimat terakhir yang kauucap, sedikit berharap aku bisa melupakan sepenuhnya saat kau berkata "Maafkan aku.".

pengalaman pribadi...
ReplyDelete(y)
-_^