Hari ke-40

Sudah lama kita terjebak dalam kesunyian ini. Mungkin sudah hampir setengah jam kita duduk berdua dan selama itu pula aku hanya memandangi nanar dengan mata sembabku seluruh isi kamarku. Aku sadar harus membereskan dan membersihkan kamarku, namun akhir-akhir ini waktuku terlalu tersita untuk memikirkan sebuah hal. Dan sekarang hal itu sedang duduk tepat di sampingku. Namun yang kurasakan tetap kesendirianku, entah kenapa. 

"Kamu belum mengantuk?", akhirnya kamu yang pertama menyerah terhadap sepi. Entah pertanyaan basa-basi atau tidak mengingat sekarang sudah hampir tengah malam.
"Hmmm.", aku hanya berhasil mengucapkan itu sebagai tanda bahwa aku belum siap untuk sebuah percakapan tapi aku masih bersedia untuk mendengarkan.

Gema Gita Mahardika


Alkisah di desa Nusa Makmur hiduplah warganya yang rukun dan damai. Mereka memiliki semangat gotong royong yang tinggi sehingga membuat kehidupan di desa menjadi harmonis, bukan hanya saat musim panen tetapi juga saat gagal panen pun para petani masih bisa saling menghibur dan membantu.

Pernikahan Hitam


Aku memandangi cermin sebesar orang dewasa yang kini berada di depanku. Kupatut diriku yang memakai setelan berwarna hitam kelam. Warna hitam yang merupakan warna favoritku sekaligus favoritmu. Sempurna. Tapi kesempurnaan itu  terasa kurang karena dasi yang untuk kesekian kalinya kurapikan yang entah mengapa selalu terlihat tidak simetris atau mungkin ini karena efek gugupku saja. Seharusnya jadi hari bahagia tetapi yang kurasakan hanyalah kegugupan dan rasa sesak yang sedikit menyakitkan. Pokoknya aku harus tampil sebaik mungkin hari ini “Al, mempelai wanitanya udah datang tuh. Buru keluar, ngaca mulu. Jangan lupa cincinnya dibawa”, jantungku hampir melompat ketika temanku mengabarkan hal itu. Kujawab dengan anggukan cepat meskipun aku belum sepenuhnya pulih dari rasa kagetku ataupun pulih dari rasa gugupku. Namun siap tidak siap akhirnya hari ini tiba juga. Apapun yang terjadi aku harus tampil sempurna hari ini, meski dalam hitam.

#PaNic1




Kita kembali berkumpul kembali setelah berpisah. Dengan muka bercoreng arang ataupun basah kuyup kita berbagi keceriaan. Dengan tangan saling terikat kita makan bersama.

Ingat, kah?


Tangan yang sekarang mendorongku menjauh sewaktu pernah menarikku ke rengkuhmu. Ingat, kah?

Kaki yang berlari pergi dulu beberapa kali tertatih mengerjarku. Ingat, kah?

Perut yang terasa mual setiap melihatku pernah tergelitik kupu-kupu setiap mendengar namaku. Ingat kah?

Dada yang panas setiap teringat aku pernah kau pinjamkam untukku bersandar. Ingat, kah?

10 Lusin dan Sekodi Karakter

Kami tahu ini bukan kehidupan, beberapa jiwa malah kadang menemui kematiannya di sini. Beberapa malah bereinkarnasi dari dan di sini.

Kami tahu pula bahwa dunia ini tidak lah nyata tapi jangan munafik bahwa dunia ini telah menjadi bagian dari kenyataan kami. Mungkin kalian juga.

About Me

Powered by Blogger.

Copyright © / Rated R

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger