Pernikahan Hitam


Aku memandangi cermin sebesar orang dewasa yang kini berada di depanku. Kupatut diriku yang memakai setelan berwarna hitam kelam. Warna hitam yang merupakan warna favoritku sekaligus favoritmu. Sempurna. Tapi kesempurnaan itu  terasa kurang karena dasi yang untuk kesekian kalinya kurapikan yang entah mengapa selalu terlihat tidak simetris atau mungkin ini karena efek gugupku saja. Seharusnya jadi hari bahagia tetapi yang kurasakan hanyalah kegugupan dan rasa sesak yang sedikit menyakitkan. Pokoknya aku harus tampil sebaik mungkin hari ini “Al, mempelai wanitanya udah datang tuh. Buru keluar, ngaca mulu. Jangan lupa cincinnya dibawa”, jantungku hampir melompat ketika temanku mengabarkan hal itu. Kujawab dengan anggukan cepat meskipun aku belum sepenuhnya pulih dari rasa kagetku ataupun pulih dari rasa gugupku. Namun siap tidak siap akhirnya hari ini tiba juga. Apapun yang terjadi aku harus tampil sempurna hari ini, meski dalam hitam.


*   *   *

Di sebuah sore saat kita terjebak hujan dan berteduh di sebuah toko yang sepertinya sudah tutup. Hanya kita bedua yang berada di situ, duduk di samping motorku yang digunakan sebagai pelindung dari pandangan orang agar kita lebih leluasa berbicara. Kita membicarakan tentang kita, ah, aku suka saat-saat seperti ini. Hanya ada kita dan hanya membicarakan kita. Kuperhatikan setiap gerakmu, setiap kata yang keluar dari bibirmu, setiap air yang menetes dari rambutmu dan bola matamu yang hitam. Kurapikan rambut depanmu yang menutupi sebelah matamu yang dan segera kau mengelak.

“Malu, Al. nanti dilihat orang”. Aku pun tertawa kecil mendengarnya dan segera menarik kepalamu di dadaku.

“Kamu masih peduli dengan omongan orang lain? Aku suka kamu, aku suka rambutmu. Hitam, warna kesukaanku.”, ujarku mengusap kepalanya.

“Aku juga suka hitam, Al. Tapi bukankah menurut orang hitam itu tanda kesedihan? Kelam seperti kematian.”

“Kenapa harus peduli dengan kata orang lain? Aku suka hitam, kamu suka hitam. Hitam kan tidak selalu jahat”, aku mendekapmu lebih erat.

“Tapi, Al”, kamu melepaskan diri dari dekapku. “Kamu tahu tidak kode HTML untuk hitam?”, aku pun hanya membalas dengan gelengan heran.

“000000, kosong, ketiadaan, hampa”, dan aku masih tertegun heran. Sedangkan hujan sudah mulai reda.

*   *   *
                
Sekarang sudah berada di hall membawa cincin yang akan kuberikan kepadamu nanti. Kegugupanku semakin membuncah. Apakah nanti aku bisa berdiri tegap di depan? Apakah nanti aku kuat? Dan banyak sekali pertanyaan yang semakin membuatku gugup.
                
Namun sudah tidak ada waktu lagi untuk gugup. Kamu sudah menungguku di altar, menungguku untuk membawakan cincin. Kurasakan kegugupanku menyebar dan membesar, menyesakan dadaku. Langkahku mulai tak yakin. Kalau bisa mungkin sekarang aku sudah berbalik arah dan berlari menjauhi pesta ini. Namun terlambat, kini aku sudah berada di depanmu. Perlahan mendekatimu. Dirimu yang berdiri di altar, bersama orang lain.
                
Gaun pengantin dengan rok yang mengembang tepat di atas lutut, sederhana tapi terlihat sangat menawan dengan kaki jenjang yang berbalut sepatu krem berhak tinggi. Dipadukan dengan kerudung yang menjuntai mengikuti rambut yang hitam kemerahan. Tapi kenapa gaunnya berwarna putih? Katanya kamu suka hitam. Lantas kenapa kamu memilih putih? Apakah kamu bahagia dengan pilihanmu ini? Atau kamu hanya terpaksa memilih putih karena orang lain? Atau untuk menutupi hitammu? Meski hitam adalah bahagiamu sendiri. Ah, sudah lah, itu bukan urusanku lagi. Aku Cuma berharap kamu bahagia dengan putihmu itu.
               
Semakin dekat aku dengan altar, semakin dekat aku denganmu, semakin sesak jantungku. Rongga dada ini dipenuhi dengan berbagai perasaan; marah, sedih, kecewa tetapi juga terselip rasa bahagia untukmu. Walau mungkin bahagia ini adalah hasil dari kemunafikanku saja. Semua perasaan itu semakin membuatku berat, tenggorokanku tercekat hingga akhirnya aku tak tahan dan melepas dasi yang rasanya seperti mencekikku. Ah, tindakan bodoh. Sesalku kemudian, harusnya aku menahannya. Harusnya aku tampil sempurna hari ini, setidaknya untukmu di hari pernikahanmu. Harusnya aku tampil sempurna karena mungkin hari ini adalah hari terakhirku bisa berada di sisimu.
              
 Tapi sudah terlanjur, kini aku sudah sangat dekat denganmu dan mengambil posisi di belakangmu

“Al, cincinnya dibawa, kan?” kubalas dengan anggukan karena kerongkonganku serasa disumpal dengan kata-kata yang tidak bisa kukatakan, setidaknya tidak sekarang atau aku akan menghancurkan ritual sakralmu. “Makasih ya, kamu baik banget mau jadi wingman-ku. Aku sangat membutuhkannya sekarang.” Aaah, kamu tidak tahu saja betapa aku ingin pergi dari tempat ini sekarang. Betapa aku masih menyayangimu, tidak berkurang masih sama seperti perasaanku di senja yang hujan dulu. Namun kujawab hanya dengan senyuman yang kuharap tidak memperlihatkan kegetiranku dan kamu pun membalasnya dengan senyuman juga, seyuman yang menandakan kebahagiaan.

Kini aku hanya bisa melihat bagian belakangmu. Rambutmu yang hitam kelam kini sudah kau warnai dengan warna coklat tua. Aku hanya bisa menahan senyumku melihatmu yang sudah tidak hitam lagi. Hanya setelanmu yang hitam, meski ada garis putih dibagian kerahnya. Harusnya aku yang berada di sampingmu sekarang. Inginku aku yang menemanimu di altar, membuat sebuah pernikahan; pernikahanku, pernikahanmu, pernikahan kita. Pernikahan hitam. Pernikahan dimana kedua pengantin menggunakan setelan berwarna hitam.




sumber gambar dan ide cerita : 케이윌 (K.will) - 이러지마 제발 (Please don't...) Music Video

0 comments:

Post a Comment

About Me

Powered by Blogger.

Copyright © / Rated R

Template by : Urang-kurai / powered by :blogger