Alkisah di desa Nusa Makmur
hiduplah warganya yang rukun dan damai. Mereka memiliki semangat gotong royong
yang tinggi sehingga membuat kehidupan di desa menjadi harmonis, bukan hanya
saat musim panen tetapi juga saat gagal panen pun para petani masih bisa saling
menghibur dan membantu.
Tetapi keharmonisan tersebut
mulai terusik, hal itu disadari pertama kali dengan ketiadaan anak-anak di
sawah untuk membantu orang tuanya atau sekedar bermain-main.Setelah diusut,
ternyata hal ini disebabkan oleh kehadiran keluarga baru di desa Nusa Makmur,
keluarga Bu Onlen dan Pak Tekno yang selalu membuka lebar rumahnya untuk
bermain para anak. Hal itu menyebabkan para anak lebih memilih bermain
dibandingkan melakukan hal-hal yang biasa mereka lakukan dan menjadi pemalas. Hal
ini menyebabkan para petani menjdai gelisah dan takut jika tidak ada lagi
penerus yang akan menggarap sawah dan menanam padi dan membuat desa tersebut
menjadi tidak memiliki bahan makan. Namun tidak sedikit pula warga yang menerima
kehadiran keluarga Bu Onlen karena tidak disangkal pula kehadiran mereka juga
membantu kehidupan warga menjadi lebih mudah. Tetapi tetap saja para petani
gelisah tentang anak-anak mereka lupa yang tentang adat istiadat dan tidak sudi
untuk melanggengkan sawah.
Di antara kegelisahan warga
tersebut, masih ada Ibu Kita, ibu tani tua yang dengan kearifannya mengajak
para warga untuk tetap optimis bisa menghadapi perubahan yang terjadi di desa.”
* * *
Begitulah sinopsis dari sebuah
Konserta yang diadakan oleh @SanggarAnakAkar pada tanggal 1 dan 2 Maret 2013 di
Pusat Perfilman Hj. Usmar Ismail, Kuningan, Jakarta Selatan. Lakon musik teatrikal
yang mengambil judul “Gema Gita Mahardika” menyuguhkan rangkaian komposisisi
musik yang tematik dalam satu alur
cerita dengan unsur pengadeganan yang kuat ini bertujuan untuk menggalang dana
yang akan digunakan untuk membuat sanggar baru. Pembangunan sanggar baru ini
disebabkan oleh sanggar lama yang berada di Kalimalang, Jakarta Timur ini akan
direlokasi sanggar karena pembangunan Tol Becakayu (Bekasi-Cawang-Kampung
Melayu) sehingga membutuhkan dana yang tidak sedikit. Saya sendiri mungkin
tidak bisa membantu untuk mendonor dalam bentuk uang, tetapi alhamdulillah saya
iseng-iseng menawarkan diri menjadi volunteer
dan bantuan saya diterima dengan baik meski sepertinya saya malah merepotkan
mereka saja dan hanya menumpang makan.
Diawali dengan tweet dari salah seorang penulis favorit saya, @vabyo, yang meretweet salah sebuah posting @SanggarAnakAkar tentang acara yang konser Gema Gita Mahardika yang mengambil tempat tak jauh dari tempat saya tinggal Hal itu lah yang membuat saya ingin memberikan tenaga saya dan mumpung pada hari pertunjukan saya sendiri tidak memiliki acara pada hari itu (naasnya saya ditawari tiket Java Jazz Festival 2013 pada hari Jumat, sejam sebelum koordinasi, yang terpaksa saya tolak). Dengan tanpa malu dan modal nekat saya mention saja vabyo dan Sanggar Anak Akar yang kemudian direspon keesokan harinya dan jadilah saya seorang sukarelawan untuk acara konserta.
Saya ditugaskan menjadi bagian ticketing pada hari pertama sedangkan pada hari kedua saya ditugaskan untuk menjadi menjadi usher yang bertugas untuk mengantarkan para penonton menuju ke tempat duduknya. Sebuah keuntungan yang sangat besar bagi saya karena saya standby di dalam ruang teater yang membuat saya dapat menonton secara penuh pertunjukan Gema Gita Mahardika. Cukup gugup sebenarnya karena saya sama sekali tidak mengenal seorang pun dan saya harus berkerja sama dengan mereka tanpa mengenal mereka sebelumnya. Ditambah dengan fakta bahwa ini adalah kegiatan volunteer pertama saya. Meski hari pertama cukup membuat saya kalang kabut karena kurangnya koordinasi dan ada beberapa hal yang terlupakan, pertunjukan pada hari pertama dapat dikatakan sukses. Sedangkan pada hari kedua ada dua pertunjukan, yaitu show siang yang mayoritas pelajar, sedangkan show malam diperuntukan untuk umum.
Konserta yang sangat rapi dan menghibur menurut saya. Pertunjukan penuh musik dengan selipan guyonan di antara dialog-dialognya.Usia pemainemain berumur sekitar 4 tahun sampai 18 tahun. Pertunjukan yang tidak hanya menjadi tontonan teatpi juga bisa menjadi tuntunan karena di dalamnya terdapat lagu anak seperti "Becak" karya Ibu Soed, lagu daerah dari Padang, Jawa, Kalimantan bahkan lagu "Apuse" yang merupakan lagu dari Irian Barat juga dinyanyikan secara apik. Tidak hanya lagu, tetapi juga tari Saman, sebuah tari daerah dari Daerah Istimewa Aceh juga ikut ditampilkan di dalamnya.
Gema Gita Mahardika cukup membuat saya kangen dengan masa kecil saya, saat saya bermain dengan teman-teman saya dari pulang sekolah sampai dengan sore atau sampai orang tua mencari dan ngomel-ngomel. Bermain disini benar-benar bermain, bukan sekedar berkumpul dan kemudian duduk dan kemudian sibuk dengan gadget dan "bermain bersama" melalui dunia maya. Kami menyanyikan lagu-lagu dolanan yang kekanakan dan ceria, bukan lagu-lagu bertemakan perselingkuhan dengan nada minor yang mendayu seperti yang disenandungkan oleh para pemain musik masa kini. Kadang miris melihat bahwa odong-odong merupakan satu-satunya hal yang memperkenalkan lagu-lagu yang patut dinyanyikan oleh para anak-anak. Seharusnya teknologi diciptakan bertujuan untuk mempermudah hidup kita, bukan utuk melupakan jati diri kita.
Namun saya senang sekali saat melihat karya dari Sanggar Anak Akar, masih banyak orang yang peduli dengan anak-anak. Tidak hanya untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak (yang kata mereka) yang kurang beruntung, tetapi juga melestarikan kekayaan budaya agar tidak terkikis oleh budaya asing. Jika banyak orang menyebut mereka anak yang kurang mberuntung, maka saya menyebut mereka anak yang sangat beruntung karena memiliki kesempatan dan kemauan untuk mempelajari budaya-budaya Indonesia.
Konserta yang sangat rapi dan menghibur menurut saya. Pertunjukan penuh musik dengan selipan guyonan di antara dialog-dialognya.Usia pemainemain berumur sekitar 4 tahun sampai 18 tahun. Pertunjukan yang tidak hanya menjadi tontonan teatpi juga bisa menjadi tuntunan karena di dalamnya terdapat lagu anak seperti "Becak" karya Ibu Soed, lagu daerah dari Padang, Jawa, Kalimantan bahkan lagu "Apuse" yang merupakan lagu dari Irian Barat juga dinyanyikan secara apik. Tidak hanya lagu, tetapi juga tari Saman, sebuah tari daerah dari Daerah Istimewa Aceh juga ikut ditampilkan di dalamnya.
Gema Gita Mahardika cukup membuat saya kangen dengan masa kecil saya, saat saya bermain dengan teman-teman saya dari pulang sekolah sampai dengan sore atau sampai orang tua mencari dan ngomel-ngomel. Bermain disini benar-benar bermain, bukan sekedar berkumpul dan kemudian duduk dan kemudian sibuk dengan gadget dan "bermain bersama" melalui dunia maya. Kami menyanyikan lagu-lagu dolanan yang kekanakan dan ceria, bukan lagu-lagu bertemakan perselingkuhan dengan nada minor yang mendayu seperti yang disenandungkan oleh para pemain musik masa kini. Kadang miris melihat bahwa odong-odong merupakan satu-satunya hal yang memperkenalkan lagu-lagu yang patut dinyanyikan oleh para anak-anak. Seharusnya teknologi diciptakan bertujuan untuk mempermudah hidup kita, bukan utuk melupakan jati diri kita.
Namun saya senang sekali saat melihat karya dari Sanggar Anak Akar, masih banyak orang yang peduli dengan anak-anak. Tidak hanya untuk memberikan pendidikan kepada anak-anak (yang kata mereka) yang kurang beruntung, tetapi juga melestarikan kekayaan budaya agar tidak terkikis oleh budaya asing. Jika banyak orang menyebut mereka anak yang kurang mberuntung, maka saya menyebut mereka anak yang sangat beruntung karena memiliki kesempatan dan kemauan untuk mempelajari budaya-budaya Indonesia.

0 comments:
Post a Comment