Sudah lama kita terjebak dalam kesunyian ini. Mungkin sudah hampir setengah jam kita duduk berdua dan selama itu pula aku hanya memandangi nanar dengan mata sembabku seluruh isi kamarku. Aku sadar harus membereskan dan membersihkan kamarku, namun akhir-akhir ini waktuku terlalu tersita untuk memikirkan sebuah hal. Dan sekarang hal itu sedang duduk tepat di sampingku. Namun yang kurasakan tetap kesendirianku, entah kenapa.
"Kamu belum mengantuk?", akhirnya kamu yang pertama menyerah terhadap sepi. Entah pertanyaan basa-basi atau tidak mengingat sekarang sudah hampir tengah malam.
"Hmmm.", aku hanya berhasil mengucapkan itu sebagai tanda bahwa aku belum siap untuk sebuah percakapan tapi aku masih bersedia untuk mendengarkan.
"Kamu masih marah?", ah, pertanyaan konyol. Bagaimana mungkin aku bisa marah kepadamu.
"Tidak.", memang tidak, apalagi yang harus kukatakan?
"Maafkan aku yang sudah lama tidak menemuimu.", aku hanya menunduk. Mungkin aku memang marah kepadamu. Tetapi ini bukan marah seorang yang tidak ditemui kekasihnya untuk beberapa lama, ini adalah marah seseorang yang tidak mampu menemui kekasihnya. Iya, sebenarnya aku marah kepada diriku sendiri. Padahal ada begitu banyak waktuku yang bisa digunakan untuk menemuimu tetapi yang kulakukan hanyalah menunggumu di kamarku dan mengingat hal itu hanya membuatku menunduk semakin dalam dan membenamkan mukaku mendekati lutut, aku malu. Harusnya aku yang meminta maaf, bukan kamu. Aku malu karena hanya bisa menunggu.
Kurasakan tanganku yang sedari tadi memeluk lutut ditarik secara halus tetapi tegas, ketegasan untuk mencari jawaban dariku yang terlalu lama terdiam dengan pikiranku. Akhirnya kuangkat mukaku dan kuberanikan diri untuk melihatmu lagi. Mata itu, sudah lama aku tidak melihatnya. Sepasang bola mata dengan warna cokelat gelap. Sepasang mata dengan tatapan dalam yang membuatku ingin menundukan kepalaku kembali.
"Jujur, aku tak percaya sekarang kamu ada disini." Ya, bahkan aku berpikir kamu tidak akan pernah kembali dan pikiranku itu yang membuatku gila. Atau mungkin aku memang sudah gila dan sekarang yang di depanku adalah fatamorgana? Hahaha, aku tertawa sendiri membayangkan diriku gila, gila karenamu.
"Kenapa tersenyum?", lamunanku sekali lagi buyar. Sepertinya tanpa kusadari tawa imajinerku menyata menjadi lengkungan di bibirku.
"Ah, tidak.", ada jeda, aku mengatur otakku kembali ke kamarku. "Seperti yang kukatakan tadi, aku masih tidak percaya imajinasiku sebegitu nyatanya.", kini aku tersenyum dengan sadar, atau mungkin lebih tepat disebut meringis.
"Ini aku, aku nyata. Tidak kah kamu merasakannya?", kamu mengenggam tanganku lebih erat.
"Rasakanlah, aku sekarang berada tepat di depanmu."
Iya, memang benar kamu sekarang di depanku dan jika kamu hanya bayangan seperti yang kupikirkan lalu kenapa aku bisa merasakan dinginnya telapakmu. "Tapi kan kamu sudah pergi dan…", perkataanku menggantung di kebingungan. Entah kata apa lagi yang bisa kugunakan untuk mempertahankan kesadaranku.
"Dan apa? Apa aku kurang nyata? Baiklah rasakanlah lagi.", tiba-tiba tangan yang sedari tadi menggenggam jemariku lepas, tanpa sadar aku ingin menggapainya lagi namun sekarang aku sudah tidak bisa bergerak. Seluruh gerakku terkunci oleh dekapan yang sangat kukenal. Nafasku tercekat. Bukan karena pelukanmu yang terlalu erat tapi karena kesal bahwa usahaku untuk mengilusikan kehadiranmu menjadi nihil. Aku harus menyerah kepada kenyataan bahwa kau ada di sini. Kenyataan bahwa sekarang aku merasakan pelukanmu.
"Bagaimana? Masih ragu?", tanyamu yang hanya kujawab dengan diam. Bukan maksudku untuk diam tetapi semua ini terlalu membingungkan dan terlalu menggiurkan. Dengan atau tanpa sadar aku sekarang menikmati pelukanmu dan hal itu membuatku ingin diam saja dan tak menggubris hal lain.
"Tolong jawab, waktuku tak banyak.", suaramu memelas namun tetap tegas menuntut jawaban. Tangan kananmu bergerak keatas kemudian mendarat di kepalaku, kamu mengusap kepalaku. Sedangkan aku masih diam, seharusnya kamu sadar diamku ini sebagai tanda untuk menikmati saat ini. Tapi entahlah.
"Sepertinya memang seharusnya aku tidak datang ke sini. Semestinya aku pergi saja dan menghilang sampai kau lupa.", kalimat yang keluar dari mulutmu benar-benar berhasil membuat perasaanku kembali kacau.
"Jangan!", ucapku lemah, aku tidak yakin kamu mendengarnya sehingga aku mengulanginya lagi dengan suara yang kuusahakan mencapai indra pendengaranmu.
"Tidak, memang seharusnya aku tidak muncul lagi dalam kehidupanmu sehingga kamu bisa melupakanku.", melupakanmu? Lucu sekali. Bahkan mungkin jika aku terkena amnesia kamu tetap aku ingat, tidak, kamulah satu-satunya hal yang akan kuingat.
"Kenapa bicara begitu? Apa kamu sudah tidak mau bersamaku lagi?", entah kenapa pertanyaan itu yang malah keluar dari sekian banyak pikiran yang berkecamuk dalam otakku. Ah bodoh, bagaimana jika ia mengiyakannya?
"Bodoh, tentu saja tidak. Jika aku tidak mau menemuimu tentu saja aku tidak di sini sekarang. Aku hanya tidak tega melihatmu seperti ini. Aku tidak mau kamu terpuruk menungguku. Pergilah, carilah penggantiku", jantungku serasa dirobek mendengar itu. Kepalaku ingin meledak saat itu juga.
"Kamu yang bodoh! Mencari pengantimu? Aku sudah berjanji saat kita terakhir bertemu bahwa aku akan tetap menunggu, selama apa pun itu aku tidak peduli.", kudengar nadaku sedikit meninggi. Emosiku sudah meliar dan tidak bisa dikendalikan. Kamu memang sangat pintar membuatku hilang kendali.
"Tetapi aku benar-benar tidak mau melihatmu seperti tadi atau hari kemarin. Duduk di pojokan dan menangis dan memanggilku sedangkan aku hanya bisa melihatnya tanpa bisa melakukan apa pun. Sadarlah! Hal itu juga membuatku sakit.", kali ini perutku serasa dipukul. Seluruh tubuhku menjadi sesak.
"Jadi kamu melihatku selama ini? Kenapa kamu tidak muncul saja?", suaraku mulai tak terkendali.
"Sudah kubilang aku tidak bisa. Karena itu lah aku memohon padamu agar kamu melupakanku, pergilah dari bayanganku. Jangan menyakiti dirimu sendiri. Carolah orang lain yang bisa menemanimu setiap saat.", setiap kata yang keluar seperti menusuk dadaku. Kumohon berhentilah menyuruhku melupakanmu. Mengingatmu ataupun menunggumu memang sakit, tetapi akan lebih sakit lagi jika aku harus melupakanmu. Meskipun akan ada orang lain tapi itu bukan kamu. Tidak! Tekatku sudah bulat untuk menunggumu.
"Sebelum kamu menyuruhku melupakanmu, bolehkah aku bertanya satu hal kepadamu?" ", tanyaku.
"Tentu saja, bertanyalah apa saja", ada sorot penasaran di matamu.
"Apakah kamu masih mencintaiku?", mungkin pertanyaan yang terlalu melankolis. Tetapi itulah yang ingin kutanyakan. Aku tidak tahu apa yang kau rasakan dan karena itulah aku bertanya. Namun ada perasaan takut. Takut jika dia menjawab hal yang paling tidak ingin kudengar atau takut kamu berbohong dengan jawabannya.
"Sudah kubilang kamu lah yang bodoh, hal seperti itu saja masih perlu kau tanyakan. Tentu saja aku mencintaimu, bahkan perasaan itu akan abadi, sayang. Apakah kamu ragu?", kutatap lekat matanya. Tak kulihat sedikitpun dusta di sana. Sedikit lega dengan jawaban itu. Sedikit, entahlah masih banyak hal yang ingin kupastikan darimu tapi untuk saat ini itu saja lebih dari cukup.
"Jika kau mencintaiku, izinkan egoku untuk menunggumu. Tolerir kebodohanku untuk menyakiti diriku sendiri. Bolehkan aku menikmati rindu yang mengetuk sambil membawa namamu. Silahkan saja kamu pergi tapi jangan penah memaksaku untuk mencari penggantimu. Aku ingin setia kepada janjiku bahwa aku tak akan meninggalkanmu, apa pun yang terjadi", suaraku mulai pecah saat mengatakannya. Keheningan mendatangi kita lagi. Kulihat alismu dan matamu bergerak, tampak keraguan dimatamu.
"Kumohon, aku tidak akan menyesali keputusanku. Aku sudah benar-benar memikirkannya. hargailah keputusanku.", aku berusaha meyakinkanmu sekali lagi.
"Benarkah? Kamu yakin?", sekarang kamu yang mencari keyakinanku yang sekejap kujawab dengan anggukan pasti. Ada jeda dan aku hanya bisa menunggu jawabanmu. "Baiklah kalau itu maumu. Bukan hakku juga untuk melarangmu. Terima kasih."
Aku ingin sekali menyangkal kalimat terakhirmu. Bodoh, tentu saja kamu seharusnya memiliki hak untuk melarangku. Tapi sudahlah, aku sudah terlalu capek untuk berdebat lagi denganmu. Untuk saat ini apa yang aku inginkan sudah kau kabulkan. Aku terlalu bahagia hingga mataku menghangat.
"Sekarang, bolehkah aku menangis?", bukan bertanyaan. Namun meminta.
"Silahkan saja. Menangislah sepuasnya dibahuku. Berjanjilah kau hanya menangis saat aku ada."
Kemudian aku menghambur ke dadamu yang langsung kau sambut dengan pelukan. Entah berapa lama aku berada dalam posisi ini namun kini dadamu terasa basah di mukaku dan bukannya keberatan tetapi kamu tetap erat memelukku sambil membelai rambutku.
Tubuhku terdorong dan dengan lembut kau dongakan kepalaku hingga kini kita saling behadapan. Hah, aku tidak suka dengan posisi sekarang karena pasti wajahku sangat berantakan dengan ingus yang meleber di sekeliling mulutku. Tetapi sepertinya kau tidak terlalu memperdulikannya, bahkan kamu.....MENCIUMKU!?
Hah, ini gila? benarkah kamu menciumku? Bukankah kamu...? Otakku sepertinya sudah tidak beres lagi. Entah karena efek aku yang terlalu gila menunggumu atau ciumanmu yang membuatku tidak berpikir jernih. Sepertinya makin lama otakku makin gelap hingga kini aku membalas ciumanmu.
Dan kini mau sangat memenuhi bibirku, kurasakan kamu memasukinya dan aku pasrah bahkan cenderung menikmatinya. Lalu kau mulai menjamah dadaku. Kurasakan kamu memenuhi rongga dadaku. Sungguh, jantungku jadi sesak dan sakit tetapi aku senang, aku bahagia dengan semua ini. Mungkin inilah yang aku inginkan. Terus menerus kau makin turun dan kita masih bercumbu hingga akhirnya kurasakan dirimu berada di dalam diriku sepenuhnya.
Saat ini lah benar-benar kurasakan kamu ada. Bukan keberadaanmu lagi yang kurasakan tetapi kamu berada di tubuhku, kita bersatu.
"Sekarang, bolehkah aku menangis?", bukan bertanyaan. Namun meminta.
"Silahkan saja. Menangislah sepuasnya dibahuku. Berjanjilah kau hanya menangis saat aku ada."
Kemudian aku menghambur ke dadamu yang langsung kau sambut dengan pelukan. Entah berapa lama aku berada dalam posisi ini namun kini dadamu terasa basah di mukaku dan bukannya keberatan tetapi kamu tetap erat memelukku sambil membelai rambutku.
Tubuhku terdorong dan dengan lembut kau dongakan kepalaku hingga kini kita saling behadapan. Hah, aku tidak suka dengan posisi sekarang karena pasti wajahku sangat berantakan dengan ingus yang meleber di sekeliling mulutku. Tetapi sepertinya kau tidak terlalu memperdulikannya, bahkan kamu.....MENCIUMKU!?
Hah, ini gila? benarkah kamu menciumku? Bukankah kamu...? Otakku sepertinya sudah tidak beres lagi. Entah karena efek aku yang terlalu gila menunggumu atau ciumanmu yang membuatku tidak berpikir jernih. Sepertinya makin lama otakku makin gelap hingga kini aku membalas ciumanmu.
Dan kini mau sangat memenuhi bibirku, kurasakan kamu memasukinya dan aku pasrah bahkan cenderung menikmatinya. Lalu kau mulai menjamah dadaku. Kurasakan kamu memenuhi rongga dadaku. Sungguh, jantungku jadi sesak dan sakit tetapi aku senang, aku bahagia dengan semua ini. Mungkin inilah yang aku inginkan. Terus menerus kau makin turun dan kita masih bercumbu hingga akhirnya kurasakan dirimu berada di dalam diriku sepenuhnya.
Saat ini lah benar-benar kurasakan kamu ada. Bukan keberadaanmu lagi yang kurasakan tetapi kamu berada di tubuhku, kita bersatu.
* * *
Cahaya matahari yang panas menembus kelopak mataku hingga terasa oleh kornea. Namun kurasakan ada dingin di sekelilingku. Hal itu membuatku panik dan membuka mata meski kepalaku menjadi pening karena belom siap untuk kembali ke dunia nyata. Aku mencari sosokmu di sekeliling kamarku tetapi yang kulihat hanyalah kekosongan. Kamu dimana? Apakah kamu setega itu meninggalkanku tanpa pamit? Atau semalam hanyalah mimpi? Entah mana yang lebih menakutkan karena memikirkan hal itu membuatku menangis seketika. Tetapi aku teringat perkataanmu bahwa aku hanya boleh menangis di hadapanmu.Hingga kutahan air mata yang bahkan terasa lebih berat dari biasanya.
Aku benar-benar ingin menangis. Masa bodoh, aku harus menangis. Aku akan mencarimu agar aku bisa menangis sepuasnya. Bukankah kamu juga sudah berjanji? Sebentar, bahkan kau tidak mengucapkan janji apapun. Terserah lah, aku ingin menangis.
* * *
Kini aku sudah berada di depanmu tetapi kau masih terdiam saja. Aku bosan menunggu sapaanmu hingga aku berkata. "Kenapa kamu pergi tanpa mengatakan sepatah katapun? Seperti dulu.", kamu masih diam. "Apakah kamu benar-benar akan pergi hingga tidak mau mengucapkan apa pun setidaknya ucapkan selamat tinggal.", tidak ada jawaban darimu. Aku mulai frustasi dengan semua ini hingga pipiku dialiri oleh air hangat.
"Ha ha ha.. Mungkin memang ini semua salahku yang bersedia menunggumu. Aku yang bodoh dan kamu hanya terdiam, aku tidak menyalahkanmu." Entah kenapa aku tertawa. Tidak ada yang lucu atau pantas ditertawakan dalam hal ini kecuali diriku sendiri. Memikirkan semua yang terjadi ini membuatku semakin tidak dapat berpikir dan membuat air mataku semakin deras.
Ah, aku teringat lagi dengan perkataanmu. Mungkin ini kah maksudmu dengan aku hanya boleh menangis di depanmu? Terserahlah, sekarang aku sudah di sini dan berarti aku boleh menangis, bukan? Maka itulah yang kulakukan. Aku meraung dan menjatuhkan diri kepadamu yang bahkan tidak bergerak sama sekali. Kudekap dirimu tapi yang kurasakan hanya dingin. Sedingin batu nisan yang bertuliskan namamu dan ukiran angka 10-03-2013, yang kini kupeluk erat dalam tangisku yang menyedihkan.

0 comments:
Post a Comment